Selasa, 25 Oktober 2016

APAKAH KITA SUDAH MENGIKUTI RANTAI CINTA DENGAN BENAR ?



RANTAI CINTAI DALAM ISLAM

Pada fitrahny mencintai adalah fitra bagi manusia, namun sebelum kita mencintai seorang insan ada baiknya kita melaksanakn cinta menurut rantai cinta dalam agama islam   


 cinta pertama
 adalah cinta dalam bentuk tatayyum, cinta dalam bentuk tatayyum ini adalah cinta kepada Sang Khaliq. Ia berada pada derajat tertinggi. Tidak ada lagi yang diduakan. Cinta tatayyum adalah kecintaan totalitas. Ruang besar tanpa batas. Tanpa reserve. Cinta penghambaan. Cinta yang membudakkan. Artinya siap menjadi budak-Nya. Apa kata Dia, yang dilakukan dengan penuh cinta pula. Sebab Dia telah melimpahkan semuanya dengan cinta. Laa yajidu fii anfusihim khorojan, wayusallimuu taslimaa..(..dan tidak ada lagi dalam hatinya perasaan berat (untuk melaksanakan) dan dia berserah diri dengan penyerahan secara sempurna). Derajat dan bentuk cinta ini hanya untuk Allah SWT. Ruang ini hanya hak Allah. Sami’na wa atha’naa. Mendengar-Nya dan menta’ati-Nya.
” Dan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada ALLAH “. (Qs. Al Baqarah:165)


Cinta kedua
adalah `isy-qu, cinta yang merupakan hak Rasulullah. Penumbuhannya dalam bentuk ‘isyq, keasyikan dalam meneladani Baginda Nabi Muhammad SAW. Kekasih kita. Kecintaan inilah yang mendorong kita untuk bercontoh, ittiba’ atas sunnah-sunnahnya. Asyik, kesediaan jiwa dan langkah untuk berkorban dan berjuang menegakkan risalah yang dibawanya. Kesediaan untuk berjuang menegakkan nilai-nilai Islam. Asyik dalam menelaah kisah perjalannya, karena perjalanannya memang penuh cinta, cinta pada ummatnya. Yang dengan cintanya ia penuh kearifan berdoa bagi anak-anak Thaif yang melemparinya. Ia tersenyum sabar atas tingkah Yahudi buta yang mencaci makinya.Yang dengan cintanya sang nabi menaklukkan jiwa-jiwa manusia dalam naungan islam. Bedanya dengan cinta tatayyum adalah cinta ‘isyq ini tidak mendorong seseorang untuk menghamba kepada Rasulullah SAW. Tetapi meneladaninya dengan penuh mesra.
“katakanlah (wahai Muhammad) kepada mereka: jika engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku…”


Cinta ketiga
 adalah syauq, cinta syauq adalah kecintaan seorang mukmin dengan mukmin yang lainnya. Antara suami-istri, anak dengan orang tuanya. Jenis kadarnya adalah kadar dengan komposisi penuh kerinduan. Mengharmoni. Pengikatnya adalah ikatan iman. Cinta kepada orang-orang yang beriman mengharuskan kita mencintai semua ‘pekerjaan’ yang mendekatkan kita pada kecintaan kepada Allah dan RAsul-Nya. Cinta ini membuahkan mawaddah wa rahmah (kasih sayang) dan menjadi perekat dalam membangun ummat.


Cinta keempat
adalah: shababah, kadar kecintaan ini adalah kecintaan dalam bentuk empati. Peruntukannya kepada sesama muslim. Ruang perhatiannya lebih dalam dari sekedar simpati. Ia lahir dari ikatan dasarnya adalah keimanan. Karena Islamnya. Perhatiannya (care) lebih mendalam.Ada keinginan kuat untuk selalu membahagiankannya. Responsibility. Dorongan jiwa agar ia selalu bertabur sejuta kebaikan dan kebahagiaan. Tidak sekedar suka, tetapi masuk ke ruang jiwanya. Lebih menjiwai.

Apa yang dirasakannya akan pula kita rasakan. Cinta yang di tunjukan kepada sesama muslim sehingga melahirkan ukhuwah Islamiyah. Ada itsar (selalu ingin mendahulukan saudaranya ketimbang dirinya) dan iffah (menjaga diri dari menghiba),ia terpuaskan jiwanya manakala ia sanggup keluar dari persoalan dirinya lalu memberi kemanfaatan bagi kekasinya


Cinta kelima
            adalah : `ithf (simpati) yang ditujukan kepada seluruh manusia. Tanpa memandang ras, suku dan keyakinan. Cinta ini dimunculkan untuk mengilhamkan seseorang menjalin muamalah dengan keluhuran budi. menyeru dan menuntunnya ke jalan Allah. Kadarnyapun (hanya) sebatas suka. Suka itu adalah tarikan jiwa kepada kekasihnya. Rasa suka itu akan mendorong sang pecinta untuk bisa terampil memilih kata, menata jiwa, menghiasi tatakrama, lalu berlama-lama dalam membangun hubungan. Untuk apa derajat cinta ini ditumbuhkan?, Ya. Untuk membimbingnya, mendakwahinya, menuntunnya dan (bahkan) menyelamatkannya. Banyak kafilah jiwa-jiwa yang tersentuh awalmulanya, oleh cinta dalam tingkatan ini. Abu Bakar contohnya. Hamzah bin Abdul Muthalib misalnya. Atau Umar Tilmisani saat sentuhan awal bertemu Imam Hasan Albana.

cinta keenam
derajat terendah cinta harta benda. Kecintaan pada materi. Fitrah ketetapan kecintaan manusia adalah pada materi. Pada benda. Atau yang menghasilkan materi. Kecintaan pada kedudukan, popularitas, posisi, jabatan. Islam membenarkan cinta ini.Lalu membimbingnya dalam dalam kadar yang terukur. Bentuknya ‘intifaa’ (mendayagunakan/memanfaatkan) nya saja. Pendayagunaan derajat cinta ini tidak sampai merasuk jiwa, mati-matian menkekalkannya atau membudakkan diri padanya. Ruangnya sekedar ruang ruang permukaan. Sebatas kecenderungan saja. Alaqah,hanya menempel saja, bak tetesan buliran air di ujung bebatuan goa,menetes, lepas lalu mengumpul kembali. Kadang terlepas kadang pula tergenggam. Tentang sejauh mana seharunya cinta seorang muslim terhadap dunia itulah seorang salamah bin dinar berkata”jadikan dunia ini dalam genggaman tanganmu dan jangan jadikan dia dalam lubuk hatimu”atau senandung munajad sahabat Abu Bakar ash-shiddiq RA “Ya Allah, jadikanlah dunia ini dalam genggamanku dan jangan jadikan dunia ini dalam hatiku
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah [2]: 29

Tidak ada komentar:

Posting Komentar