RANTAI CINTAI DALAM ISLAM
Pada
fitrahny mencintai adalah fitra bagi manusia, namun sebelum kita mencintai
seorang insan ada baiknya kita melaksanakn cinta menurut rantai cinta dalam
agama islam
cinta pertama
adalah cinta dalam bentuk tatayyum, cinta
dalam bentuk tatayyum ini adalah cinta kepada Sang Khaliq. Ia berada pada
derajat tertinggi. Tidak ada lagi yang diduakan. Cinta tatayyum adalah
kecintaan totalitas. Ruang besar tanpa batas. Tanpa reserve. Cinta penghambaan.
Cinta yang membudakkan. Artinya siap menjadi budak-Nya. Apa kata Dia, yang
dilakukan dengan penuh cinta pula. Sebab Dia telah melimpahkan semuanya dengan
cinta. Laa yajidu fii anfusihim khorojan, wayusallimuu taslimaa..(..dan tidak
ada lagi dalam hatinya perasaan berat (untuk melaksanakan) dan dia berserah
diri dengan penyerahan secara sempurna). Derajat dan bentuk cinta ini hanya
untuk Allah SWT. Ruang ini hanya hak Allah. Sami’na wa atha’naa. Mendengar-Nya
dan menta’ati-Nya.
” Dan orang-orang yang beriman
amat sangat cintanya kepada ALLAH “. (Qs. Al Baqarah:165)
Cinta kedua
“katakanlah (wahai Muhammad) kepada
mereka: jika engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku…”
Cinta ketiga
adalah syauq,
cinta syauq adalah kecintaan seorang mukmin dengan mukmin yang lainnya. Antara
suami-istri, anak dengan orang tuanya. Jenis kadarnya adalah kadar dengan
komposisi penuh kerinduan. Mengharmoni. Pengikatnya adalah ikatan iman. Cinta
kepada orang-orang yang beriman mengharuskan kita mencintai semua ‘pekerjaan’
yang mendekatkan kita pada kecintaan kepada Allah dan RAsul-Nya. Cinta ini
membuahkan mawaddah wa rahmah (kasih sayang) dan menjadi perekat dalam
membangun ummat.
Cinta keempat
adalah: shababah, kadar kecintaan ini adalah kecintaan dalam bentuk empati. Peruntukannya kepada sesama muslim. Ruang perhatiannya lebih dalam dari sekedar simpati. Ia lahir dari ikatan dasarnya adalah keimanan. Karena Islamnya. Perhatiannya (care) lebih mendalam.Ada keinginan kuat untuk selalu membahagiankannya. Responsibility. Dorongan jiwa agar ia selalu bertabur sejuta kebaikan dan kebahagiaan. Tidak sekedar suka, tetapi masuk ke ruang jiwanya. Lebih menjiwai.
Apa yang dirasakannya akan pula kita rasakan. Cinta yang di tunjukan kepada sesama muslim sehingga melahirkan ukhuwah Islamiyah. Ada itsar (selalu ingin mendahulukan saudaranya ketimbang dirinya) dan iffah (menjaga diri dari menghiba),ia terpuaskan jiwanya manakala ia sanggup keluar dari persoalan dirinya lalu memberi kemanfaatan bagi kekasinya
Apa yang dirasakannya akan pula kita rasakan. Cinta yang di tunjukan kepada sesama muslim sehingga melahirkan ukhuwah Islamiyah. Ada itsar (selalu ingin mendahulukan saudaranya ketimbang dirinya) dan iffah (menjaga diri dari menghiba),ia terpuaskan jiwanya manakala ia sanggup keluar dari persoalan dirinya lalu memberi kemanfaatan bagi kekasinya
Cinta kelima
adalah
: `ithf (simpati) yang ditujukan kepada seluruh manusia. Tanpa
memandang ras, suku dan keyakinan. Cinta ini dimunculkan untuk mengilhamkan
seseorang menjalin muamalah dengan keluhuran budi. menyeru dan menuntunnya ke
jalan Allah. Kadarnyapun (hanya) sebatas suka. Suka itu adalah tarikan jiwa
kepada kekasihnya. Rasa suka itu akan mendorong sang pecinta untuk bisa
terampil memilih kata, menata jiwa, menghiasi tatakrama, lalu berlama-lama
dalam membangun hubungan. Untuk apa derajat cinta ini ditumbuhkan?, Ya. Untuk
membimbingnya, mendakwahinya, menuntunnya dan (bahkan) menyelamatkannya. Banyak
kafilah jiwa-jiwa yang tersentuh awalmulanya, oleh cinta dalam tingkatan ini.
Abu Bakar contohnya. Hamzah bin Abdul Muthalib misalnya. Atau Umar Tilmisani
saat sentuhan awal bertemu Imam Hasan Albana.
cinta keenam
derajat
terendah cinta harta benda. Kecintaan pada materi. Fitrah ketetapan kecintaan
manusia adalah pada materi. Pada benda. Atau yang menghasilkan materi.
Kecintaan pada kedudukan, popularitas, posisi, jabatan. Islam membenarkan cinta
ini.Lalu membimbingnya dalam dalam kadar yang terukur. Bentuknya ‘intifaa’ (mendayagunakan/memanfaatkan) nya saja. Pendayagunaan derajat cinta ini tidak sampai merasuk jiwa, mati-matian menkekalkannya atau membudakkan diri padanya. Ruangnya sekedar ruang ruang permukaan. Sebatas kecenderungan saja. Alaqah,hanya menempel saja, bak tetesan buliran air di ujung bebatuan goa,menetes, lepas lalu mengumpul kembali. Kadang terlepas kadang pula tergenggam. Tentang sejauh mana seharunya cinta seorang muslim terhadap dunia itulah seorang salamah bin dinar berkata”jadikan dunia ini dalam genggaman tanganmu dan jangan jadikan dia dalam lubuk hatimu”atau senandung munajad sahabat Abu Bakar ash-shiddiq RA “Ya Allah, jadikanlah dunia ini dalam genggamanku dan jangan jadikan dunia ini dalam hatiku
Dia-lah Allah, yang menjadikan
segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit,
lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala
sesuatu. (QS. Al-Baqarah [2]: 29